Blitar-Setelah melihat-lihat ciri khas dari rumah adat suku osing, giliran tarian khas yang selanjutnya disuguhkan kepada rombongan, karena jarak antara rumah adat dan tempat pertunjukan tari tidak begitu jauh maka rombongan berjalan untuk menyaksikan pertunjukannya. Selain tarian, rombongan juga disuguhi teh dan kopi hangat sekaligus kue cucur dan lepet. Setelah 5 menit menunggu dan menikmati hidangan yang disajikan, akhirnya tarian yang ditunggu-tunggu siap untuk disajikan. Tari Gandrung merupakan salah satu tarian yang dimiliki oleh masyarakat Banyuwangi selain tari seblang, padhang ulan, Cengkir Gading dan Jaranan Buto. Tari gandrung dulu kala merupakan tarian yang hanya digelar untuk merayakan panen atau musim panen, tarian ini terinspirasi dari pesona Dewi Sri yang dianggap pada jaman dulu sebagai Dewi Padi dan Kemakmuran. Sebelum tarian dimulai, tetua adat menceritakan asal mula tari gandrung, selain karena terpesona oleh Dewi Sri, awalnya tarian ini diperankan oleh laki-laki yang berdandan seperti perempuan, karena agama islam telah menyebar diseluruh wilayah banyuwangi dan banyak tokoh agama yang menentang hal tersebut maka tarian tersebut di bawakan oleh perempuan dan sampai sekarang. Pertunjukan tari gandrung berlangsung selama 15 menit dan dibawakan oleh 2 (dua) orang penari, dalam sela-sela menari pak camat dan bu camat, serta pak sekcam dan kasi Pemerintahan diajak untuk ikut menari sehingga suasana semakin meriah karena ternyata sebagian dari kami tidak bisa menari. –by rdnh

Check Also
Semarak Kejuaraan Sepak Takraw Piala Bupati Blitar 2025: Camat Udanawu Dukung Semangat Sportivitas Pelajar
Rabu (12/11/2025) – Camat Udanawu menghadiri acara Pembukaan Kejuaraan Kabupaten Sepak Takraw Piala Bupati Blitar …